Anatomi Resistensi Terhadap Program Transformasi

Heri Kuswara

Catatan : Heri Kuswara

JAKARTA, INEWSOnline.co.id : Esensi dari transformasi adalah perubahan organisasi (Organization Change). Dalam implementasinya perubahan ini dapat berupa apa yang dikerjakan (fungsi), cara mengerjakannya (metode), mekanisme kerjanya, alat bantu kerjanya, restrukturisasi, mutasi, rotasi, demosi dan eliminasi.

Sudah barang tentu spektrum dari perubahan ini tidak harus merata di semua lini. Perubahan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan nilai strategis yang akan dicapai. Jadi jelas respon karyawan terhadap perubahan tersebut akan beraneka ragam karena keharusan dalam men-transformasi suatu organisasi akan berdampak pada kelangsungan mereka (karyawan).

Artikel singkat ini tidak akan membahas mengenai perubahan (transformasi) organisasi tetapi membahas mengenai respon karyawan dalam suatu organisasi terhadap perubahan itu sendiri.

A. Latar Belakang

Mengapa manusia Alergi dengan perubahan ? jawabannya sangat sederhana : karena manusia rasional, ingin mempertahankan hidup. Jawaban ini tidaklah dibesar-besarkan. Alam mengajari semua mahluk hidup untuk menghemat energinya.

Ular jarang bergerak bukan karena malas tapi untuk menghemat energinya, kura-kura, kerang dan sejenisnya jarang sekali bergerak ataupun mengeluarkan kepalanya itupun bukan berarti malas tetapi bagaimana mengatur energinya agar dapat digunakan pada kondisi yang tepat. Perubahan lingkungan, rumah, pekerjaan, apapun akan menguras lebih banyak energi, bahkan perubahan diluar batas kemampuan dan batas toleransi dapat mengorbankan hal yang prinsip dan melanggar norma-norma yang berlaku.

Pada dasarnya manusia hampir sama dengan mahluk lainnya yaitu tidak suka dengan perubahan. Secara alami manusia membuat “pola” dalam tindakan, respon dan berfikir. Kebanyakan pola atau persepsi ini memang banyak menghemat energi.

Sebagaimana kita tidak perlu mempertimbangkan, jika di pipi kita menempel seekor nyamuk, secara refleks kita ayunkan tangan untuk menampar pipi kita. Perubahan terhadap persepsi dan pola tindak, jelas kurang disukai karena kita harus memprogram ulang respon kita.

Sekarang jelas bahwa secara anatominya, resistensi terhadap perubahan adalah rasional dan seringkali juga tindakan pengamanan untuk “survive”, meskipun seringkali resistensi juga menghambat kemajuan budaya manusia. Perlu sebuah jawaban dari pertanyaan bagaimana seharusnya “melawan” resistensi ?

Resistensi tidak selalu terlihat, karena implementasi dari resistensi itu sendiri berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar “tidak ikut”, apatis, sampai pada agresif atau aksi “perlawanan”, tergantung dari kadar perubahan maupun kekuatan individu/komunitas yang resisten. Sikap resisten akan terlihat jelas apabila program transformasi diwujudkan, ada yang bersikap mencoba mencari titik lemah dari transformasi tersebut ataupun berusaha menjauhinya.

B. Sumber Resistensi

Setidaknya ada lima faktor utama kenapa individu/karyawan menolak perubahan (transformasi) yakni habit, keamanan, ekonomi, ketakutan dan distorsi informasi.

1. Faktor pertama Habit atau kebiasaan. Yang dimaksudkan disini bukanlah kebiasaan untuk menolak perubahan sich. Tetapi habit untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan cara/metode yang telah dipahami atau adanya perubahan pelayanan menggunakan teknologi baru.

2. Faktor kedua adalah keamanan. Keamanan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia (setidaknya teori Maslow). Perubahan selalu akan membawa perubahan konfigurasi terhadap keamanan individu. Ancaman terhadap keamanan ini dapat bervariasi, mulai dari kehilangan teman, rotasi, mutasi, demosi, kehilangan peran, kehilangan andalan bahkan sampai pada kehilangan pekerjaan (PHK/Permintaan diri).

3. Faktor ketiga adalah ekonomi. Level atau gradasi dari alasan ekonomi ini cukup beragam mulai dari turun atau ditiadakannya bonus, hilangnya kesempatan promosi jabatan (stagnas) sampai kehilangan pekerjaan itu sendiri. Barangkali motif ini yang paling banyak muncul dari kasus-kasus resistensi terhadap perubahan. Hal ini wajar karena dilihat dari sudut pandang organisasi, salah satu variabel penting dari perubahan adalah efektivitas, efesiensi, dan cutting cost.

4. Faktor Keempat adalah Takut terhadap Ketidaktahuan (far of the unknown). Siapa sih yang senang dikatakan “tulalit”, “Botol” atau “Jaka sembung bawa golok” dan istilah – istilah lain yang mempunyai makna yang sama. Satu contoh perubahan dari sistem manual ke komputerisasi, Komputerisasi ke berbasis Online, Software & Hardware dengan teknologi terkini, ini memungkinkan munculnya resistensi dari karyawan karena kekhawatiran terancam mutasi, stagnas, perampingan karyawan bahkan sampai dirumahkan.

5. Faktor kelima adalah Distorsi informasi. Manusia memandang realita melalui persepsinya. Sekali dia mengartikan suatu realita, dia akan menolak perubahan yang merusak keyakinannya.

C. Solusi Resistensi

Sebenarnya tidak ada jalan pintas untuk mengatasi resistensi ini. Namun demikian ada beberapa cara yang dapat dikombinasikan sesuai dengan sebab-sebab terjadinya resistensi.

1. Komunikasi. Apa sebenarnya yang harus dikomunikasikan?. Pada setiap organisasi sering kali kita mendengar istilah komunikasi, sosialisasi, koordinasi, konfirmasi dan si.. si.. yang lainnya. Sebenarnya yang perlu dikomunikasikan adalah the logic of change, mengapa perlu perubahan.

Manusia rela untuk berubah jika perubahan itu akan menguntungkan dirinya. Ini dipahami melalui logika (umumnya), bukan melalui doktrin. Yang sering terjadi adalah bias dalam menterjemahkan keuntungan ini, sering berjangka pendek. Sebagai contoh adalah bagaimana mengkomunikasikan budaya “ngirit”, etos kerja, efesiensi dan efektivitas kerja sehingga dapat menguntungkan organisasi yang pada gilirannya (Insya Allah) akan menguntungkan karyawan secara keseluruhan.

2. Partisipasi. Setiap individu akan memiliki rasa sence of belonging, sence of critis, dan bentuk kepedulian serta tanggungjawab lainnya manakala ada keterpanggilan ikut merumuskan transformasi atau perubahan tersebut. Ini mudah dipahami karena individu yang ikut “merubah” sangat jelas tidak akan resisten terhadap perubahan tersebut. Asalkan perubahan tersebut didapat dari hasil konsensus bersama.

3. Fasilitas dan dukungan. Training (pelatihan), seminar, diskusi, penjelasan-penjelasan dan dukungan moril dan materil terhadap karyawan akan mengurangi resistensi. Memang cara ini tidak mudah dan cukup makan waktu namun jika dilakukan akan dapat meminimalisir resistensi yang muncul. Jadi untuk kelompok-kelompok yang sangat diharapkan mendukung cara ini sangat tepat untuk diterapkan.

4. Negosiasi. Cara ini dapat diterapkan apabila resistensi datang dari komunitas atau kelompok baik skala kecil atau besar yang cukup mempunyai pengaruh. Cara ini cukup beresiko besar bagi organisasi karena adanya special treatment, bagi komunitas atau kelompok tersebut.

5. Coercion. Cara ini dlilakukan dengan penggunaan “power” dan bahkan ancaman. Cara ini haruslah sebagai cara terakhir, bila cara lain tidak berhasil untuk menggiring kedalam perubahan.

Selain lima cara diatas, penulis yakin masih banyak lagi cara lain yang dapat diterapkan, tergantung dari jenis resistensi yang muncul.

D. Catatan penutup

Mengatasi resistensi hanyalah salah satu aspek dari managing change. Pemahaman terhadap aspek resistensi ini, bukan hanya perlu bagi agen of change, tapi bagi kita semua sebagai anggota suatu organisasi. Alasannya adalah pertama, karena perubahan itu akan pasti terus terjadi. Kedua adalah resistensi pada dasarnya natural. Seringkali, tanpa kita sadari, karena respon yang natural itu, kita menjadi begitu menolak perubahan.

Dengan pisau analisis diatas kita dapat merenung, mencoba mencari tahu, mengapa kita resist. Dengan mengetahui penyebabnya, kita menjadi lebih terbuka terhadap perubahan, dan bukan tidak mungkin kita menjadi agent of change bagi diri kita sendiri.

Kita memang hanya dapat berubah jika kita setuju untuk itu. Sebagaimana Immanuel Kant : seseorang disebut merdeka jika kewarasan akalnya menyetujui keputusan yang diambilnya.

(Penulis adalah  Motivator Karier & Entrepreneurship/Akademisi Universitas BSI Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here