Mayor Inf Hamzah Budi Susanto, Sepenggal cerita Perwira Putra Asli  Garut

GARUT, iNEWSOnline.co.id : Hidup adalah perjuangan dan pengorbanan, lebih baik pulang nama dari pada jadi pengkhianat bangsa, itulah yang tertanam dalam setiap Prajurit TNI. Salahsatunya Mayor Inf Hamzah Budi Susanto, putra dari Odjir Munawar mantan Kepala Desa Padasuka Kecamatan Cibatu Garut.

Pria kelahiran tahun 1979 ini sangat familier dan akrab ketika ngobrol di sela-sela kesibukannya karena sudah janjian dengan teman sekelasnya waktu di SD dan SMP (Tedi Sutisna), Beliau langsung ketemuan di Kedai SINAR GARUT ASLI milik Aep Saepudin di Jl. Cimanuk depan Radio Reks/SMKN 1 Garut.

Ketika dikonfirmasi seputar seluk beluk menjadi prajurit TNI, dengan gayanya yang enjoy dan rileks, Hamzah menuturkan sejak awal daftar jadi prajurit TNI yang dimulai dengan masuk Akademi Militer (Akmil), setelah lulus waktu itu KASAD TNI, Riyamizad, semua lulusan Akmil di tugaskan untuk menjadi Danramil tempur di daerah konplik dan perbatasan di seluruh Indonesia.

” Saya di tugaskan menjadi Danramil di daerah Pidie,  kemudian masuk Bataliyon di Daerah Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Aceh Utara,”  kata Hamzah penuh nostalgia.

Selanjutnya Hamzah yang merupakan alumni SMAN 3 Garut/SMAN 1 Cibatu pada tahun 1997 menguraikan perjalanan hidupnya, setelah penugasan di Aceh, dirinya  sekolah Diklapa II dan mendapat penugasan baru di Brigif 15 Kukang II Cimahi, selama 5 tahun disana, beberapa jabatan pernah di emban yaitu sebagai  sebagai Kepala Seksi Teritorial, Kepala Seksi Operasi dan  Komandan Datasement Markas. Pada saat di Brigif 15 juga  mendapat kehormatan untuk penugasan Pengamanan Perbatasan RI-PNG di sektor selatan Meuroke Papua.

”  Banyak sekali kenangan yang tidak bisa dilupakan,” kenangnya.

Lebih lanjut suami dari seorang dokter bedah yang telah dikarunia 2 orang putra kini, menunuturkan kisah pilu dan sedihnya ketika bertugas di Aceh, dimana waktu itu sedang terjadi konflik Separatis bersenjata GAM, dimana sangat susah untuk berinteraksi dengan masyarakat. Gerak sangat terbatas, tidak seperti sekarang bebas berinteraksi, jalan-jalan dan beraktifitas lainnya, suasananya sangat menegangkan antara hidup dan mati. Banyak teman seperjuangan yang gugur waktu itu. Apalagi satu bulan berikutnya terjadi Tsunami, suasananya sangat mencekam, sedih bercampur antara harapan hidup dan mati berkecambuk di hati. Saya bersyukur kepada Allah SWT masih diberikan kebebasan untuk menghirup udara dan inilah yang namanya nasib.

” Waktu itu saya masih bujangan dan suka tidur di kantor Koramil, sangat jarang tidur di Asrama yang lokasinya berdekatan dengan pantai, pada saat kejadian Tsunami, Saya di perintahkan Dandim untuk memantau situasi pasca Gempa Tsunami yg pertama ke lokasi Masjid besar Aceh, akhirnya saya keliling menggunakan sepeda motor, sesuai protap setelah pengecekan melaksanakan pelaporan di tempat kejadian.

” Ketika saya pulang ke asrama ternyata sudah habis terbawa ombak Tsunami, coba kalau waktu itu saya tidak keluar mungkin lain ceritanya,” ucap Bung Hamzah penuh haru.

Setelah dari Papua, dirinya ditugaskan di Kodim 0611 Garut sebagai Kepala staf Kodim 0611/Garut (Kasdim Garut), Alhamdulilah dirinya sangat bersyukur bisa bertugas di daerah Garut yang nota bene tempat kelahirannya.

” Garut itu memang unik, saya lahir disini, besar disini dan sekolah disini, baru tahu tentang kedalaman masyarakat Garut. Ya sekarang, luar biasa Garut itu, banyak potensi-potensi alam yang bisa dikembangkan, seperti potensi wisata, kuliner, kerajinan kulit dan potensi lainnya. Tapi dibalik itu banyak juga yang harus di tata dan dibenahi seperti inprastuktur jalan, keamanan, dan lain-lain,” tuturnya.

Ketika disinggung tentang radikalisme, Pria kelahiran Kp. Cikarees Desa Padasuka ini menjelaskan, Radikal itu tergantung dari sudut mana memandangnya, kalau dihubungkan dengan fanatisme agama malah itu dianjurnya supaya kita bisa shalat lima waktu di awal waktu, mendengar adzan lalu kita shalat berjamaah di masjid, itu bagus kan kalau fanatik terhadap agama yang dianutnya.

” Yang tidak boleh adalah fanatik agama yang berlebihan kemudian menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Radikal dengan Fanatik itu berbeda. Selama menjalankan ibadah sesuai agamanya itu bagus, yang tidak bagus adalah menjadikan agama untuk alat perjuangan dengan melakukan gerakan radikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” terang Bung Hamzah tegas.

Kita harus waspada terhadap pihak-pihak ke tiga yang ingin memecah belah bangsa indonesia yang sudah teruji kekuatannya bisa mengusir penjajah dengan bambu runcing, Indonesia adalah negara yang berdaulat dengan sistem pertahanan rakyat semesta yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia ikut berjuang membela negara.

” Siapapun yang mau merusak dan menghancurkan NKRI harus berhadapan dengan TNI dan Rakyat Indonesia secara keseluruhan dari Sabang sampai dengan Meraoke. Pokoknya NKRI Harga Mati, Radikalisme No, Cinta Damai Oke,” pungkas Hamzah.

(Rik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here