Menakar Rasa Jelang Pilkada Serentak 2018 

foto web

GARUT, iNEWSOnline.co.id : Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak, 27 Juni 2018 mendatang, tentunya kita tidak hanya sebatas memilih calon pemimpin, tetapi harus memikirkan dampak selanjutnya.

Durasi pelaksanaan Pilkada 2018 sudah diambang pintu. Dalam perjalanannya, sejak kapanye 15 Februari lalu kiprah para Pasangan Calon (Paslon) kurang menampakan diri ke permukaan khalayak secara jelas. Terlebih, memunculkan inovasi-inovasi atau kejutan yang terkesan progresif.

Banyak pihak yang merasakan bahwa kiprah Paslon menjelang Pilkada berjalan adem atau bisa dikatakan kurang bergairah. Begitupun media massa nampak kurang antusias mengangkat visi, misi dan program kerja yang diusung para kandidat.

Memang ada kegiatan para Paslon yang turun ke jaringan bawah mengunjungi lokasi keramaian, masyarakat kumuh dan terkena bencana. Bahkan lokasi yang menjadi simpul jaringan massa.

Sekilas dapat tertangkap, strategi para Paslon adalah kampanye menggunakan metode tatap muka. Inilah langkah sebagai cara dan kiat untuk mendekati publik (calon pemilih).

Cara begini dapat dibilang konvensional digunakan pada setiap Pemilu, sebagai upaya persuasif untuk meraih simpatik dalam rangka menjaring keberpihakan publik.

Hampir disemua tempat kunjungan,  persoalan atau isu yang menjadi sorotan adalah permasalahan klasik yang berkaitan dengan perekonomian, kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan dan hal-hal lain yang erat kaitannya dengan pemerataan pembangunan (sarana publik dan infrastruktur).

Kondisi buruk dari keadaan masyarakat itu setidaknya akan menjadi menu pembicaraan untuk disiasati menjadi iming-iming dalam bentuk memberi harapan kesejahteraan di kemudian hari.
Para paslon menebar janji-janji untuk memikat rakyat melalui rencana program lima tahun ke depan.

Perencanaan dialog yang dikemas dengan kesan empati dan bernuansa niatan partisipasi aktif telah menjadi skenario untuk dipentaskan disemua kesempatan.

Tampilan dan perilaku Paslon dimasa seperti ini tentunya seperti berubah sejadi-jadinya dari kelumrahan hidup sehari-harinya.

Para Paslon harus rela duduk bersama dan menyatu dengan kelompok masyarakat tradisional, bertegur sapa dengan profesi rendahan dan warga miskin yang sebelumnya jarang sekali atau (malah) belum pernah mereka lakukan.

Bisa jadi, ini merupakan sebuah cara pendekatan adaptatif yang mengisyaratkan “seolah-olah” Paslon senasib dan sependeritaan dengan masyarakat yang dikunjunginya selama masa kampanye.

Sejauh kampanye bermetoda konvensional itu dilaksanakan, pada sisi lain,  kita boleh menilai bahwa kemiskinan yang notabene memiliki kaitan erat dengan kebijakan pimpinan daerah hingga saat ini tidak mengalami perubahan kearah yang lebih positif.  Padahal, Pilkada sudah berkali-kali dilangsungkan.

Karena itu, sepak terjang para paslon ini senyatanya patut kita cermati. Betapa tidak, seseorang akan bersikap atau berperilaku bijak, so peduli, dan sejuta sikap manisnya itu karena “ada maunya” (pasti!).

Pendekatan Adaptatif cenderung berkarakter “Bunglon”

Sebab itulah, jangan terpengaruh “bujuk rayu” Paslon yang cenderung “ngebunglon.” Penampilan serta perilakunya sengaja direkayasa untuk memikat calon pemilih.

Untuk itu, pilihlah sosok yang benar-benar memiliki kredibelitas, integritas serta berkomitmen atas dedikasi untuk kemajuan daerah, sehingga layak dan mampu meningkatkan kualitas layanan birokrasi di daerah, memberantas kesengsaraan rakyat yang angkanya kian meningkat, menggerus pengangguran serta dengan lurus menjalankan sistem pemerintahan daerah dalam dinamika yang sehat.

(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here