Pengacara harus Profesional dan Berjiwa Sosial

pengacara inewsonline.co.id

GARUT,iNEWSOnline.co.id: Lika liku menjadi seorang Pengacara/Advokat itu banyak sekali. Ada suka dan dukanya juga harus dapat menjunjung tinggi kode etik advokat, jangan sampai menyalahgunakan jabatan dan profesinya kepada hal-hal yang tidak baik karena dapat mencoreng nama pengacara/advokat secara keseluruhan.

Demikian disampaikan Yadi S. Saputra, SH di kedai Sinar Garut, Jalan Otista Tarogong Kaler Garut, Jumat, (14/8/2020).

Baca Juga: PSBM Berlaku, Penyaluran BST Dilakukan Protokol Kesehatan Covid-19

Menurutnya, pengacara harus berjiwa sosial serta profesional dalam menangani setiap masalah yang ditanganinya.

Yadi yang memulai kariernya sebagai advokat pada bulan Oktober 2002 mengatakan, pada dasarnya seorang advokat itu harus berjiwa sosial. Tidak setiap perkara harus dibayar, tergantung dari kasus perkaranya. Sedangkan perkara yang bisa dia, pidana atau perdata. Semuanya ada BOP, tapi itu bisa dibicarakan secara pribadi.

” Tidak identik semua perkara harus dibayar, kalau memang harus dibantu akan kami bantu. Bahkan bisa gratis untuk biaya perkaranya. Semisal, gugat cerai, yang kebanyakan wanit ditinggal suaminya. Sedangkan ekonominya cukup memprihatinkan, maka saya sebagai manusia biasa, Insya Allah dengan BOP yang serendah-rendahnya dan tidak akan memberatkan kepada pemohon perkara,” imbuh dia.

Dalam menjalankan profesinya seorang pengacara/advokat harus berada di tengah-tengah. Disamping sebagai pembela untuk dapat melindungi masyarakat yang ingin mendapatkan keadilan dan kepastian hukum, maka perlu dibantu oleh rekan-rekan media, tokoh masyarakat dan para aktivis untuk bagaimana menyadarkan masyarakat melek tentang hukum.

Ketika disinggung mengenai hak asuh anak bagi yang melakukan gugat cerai atau talak cerai, jawab Yadi, berdasarkan UU No.1/1974, setiap anak dibawah 12 tahun, hak asuhnya menjadi tanggung jawab seorang ibu.

Jika sudah diatas 12 tahun, bisa oleh ayahnya. Tapi itu juga diserahkan kepada anaknya untuk memilih.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kongres Advokat Indonesia (KAI) Garut mengajak rekan-rekan yang sepaham untuk membantu masyarakat yang ingin meminta kepastian dan keadilan hukum.

” Bisa bekerja sama dengan kami. Baik itu gugat cerai, talak cerai ataupun yang ingin memiliki buku nikah karena sesuatu hal, maka bisa mengajukan Isbath nikah,” kata dia.

UU No 1/1974 disahkan tahun 1974, sementara pada tahun 2020 sudah ada pernikahan dan tidak tercatat di KUA, maka bisa diajukan Isbath nikah untuk proses penetapan nikah tersebut sehingga pihak istri tidak dirugikan kalau terjadi perceraian.

” Silahkan didata/difasilitasi untuk menolong mereka yang sangat membutuhkan kepastian hukum dan bisa menghubungi Kang Aep Saepudin pemilik kedai Sinar Garut. Insya Allah kami siap untuk bekerja sama dan menjadi konsultan hukum supaya masyarakat melek tentang hukum,” pungkasnya.

(Rik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here