Pilkades Identik dengan “ Mistis dan Fanatisme”?

foto web

GARUT, iNEWSOnline.co.id: Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak gelombang III Kabupaten Garut yang diikuti 125 Desa telah usai. Para pemenangnya pun telah dipublikasikan dan sebagian dari mereka meluapkan kegembiraannnya dengan “ ngubyag balong.”

Pernak-pernik kontestasi politik enam tahunan yang digelar Selasa (5/11/2019) lalu, hingga kini masih terus bergulir dalam ruang obrolan publik.

Mulai dari euforia kemenangan, praktik politik uang, mistis dan soal aksi fanatik dukung mendukung juga terus bergulir seakan tiada habisnya.

Seperti yang terjadi di Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening. Saat itu, jelang penutupan pemungutan suara, tiba-tiba muncul angin besar hingga memporak-porandakan sebagian tenda.

Sebagian warga menyebut, konon, lagi “ ngadu elmu “ (beradu ilmu).

Lalu, menyoal aksi fanatik dukung mendukung terpantau iNEWSOnline.co.id di 7 Desa yang tersebar di Kecamatan Leles. Secara khusus di Desa Leles pelaksanaannya sempat ricuh. Padahal, Pilkades yang hanya diikuti tiga kandidat tersebut sebelumnya tidak tercatat sebagai zona rawan kepolisian.

Ihwal kejadiannya sepele. Yakni, dari sorak-sorai disertai tetabuhan yang dilakukan oleh sekelompok kecil pendukung saat nomor urut 1 disebut panitia. Namun, aksi tanda luapan kegembiraan itu berubah  menjadi lontaran kata penuh nada kecewa lantaran perolehan suara calonnya di kotak pertama terlampaui kandidat nomor 2.

Pihak panitia pun bahkan menjadi korban umpatan dan cacian sebagian kecil para pendukung nomor urut 1.

Saat itu waktu menunjukan pukul 15.30 WIB. Saat panitia akan melakukan penghitungan suara  di kotak kedua, kericuhan nyaris  tidak terkendali.

Kejadian bermula ketika sejumlah orang hendak mengingatkan, tetapi malah ikut  terpancing emosi. Perang mulut disertai saling dorong pun terjadi saat itu. Penghitungan suarapun terpaksa dihentikan sementara oleh pihak panitia.

Alhasil, beberapa orang yang dianggap paling vokal dibawa anggota polisi. Satu orang dari mereka berinisial RM berhasil lari dan kembali muncul dari belakang panggung sambil berteriak, penghitungan suara harus dilanjutkan.

RM pun berhasil diamankan petugas. Selanjutnya digabungkan bersama yang lainnya di tempat yang tidak begitu jauh dari lokasi pemilihan.

Kepada polisi, RM mengaku cemas dan takut, calon jagoannya (no 1) kalah. Pasalnya telah berjanji akan membangun tebing dekat rumahnya (RW 7) yang luput dari perhatian Kepala Desa (Kades) terdahulu.

Sementara di lokasi Pilkades itu sendiri sudah  relatif terkendali. Terlihat dua anggota Brimob bersenjata laras panjang bersiaga mendampingi  Asep Suhendar, Camat Leles  dan  Kapolsek Leles  yang tengah memberi wejangan (arahan) kepada masing-masing calon.

Hasil akhir penghitungan suara Pilkades Leles dimenangkan calon nomor urut 2 (Toni Triswandi). Dia mengantongi sebanyak 1.236 suara menang telak atas kedua rivalnya, Engkus Kusmawan no urut 1 (1.119 suara) dan Wendi Ginanjar (no urut 3) yang hanya mampu mendulang suara sebanyak sebanyak 106. Suara tidak sah, tercatat  sebanyak 27 suara.

(Sifath/Bang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here